Andyrahman Architect

Grand Royal Regency Blok G3/11, Wage, Sidoarjo, Jawa Timur

Kantor JNE Bangka Belitung

Kantor JNE yang berlokasi di pulau Bangka Belitung ini mengusung konsep modern, the lines as underlined office concept. Bangunan yang terdiri dari 3 lantai ini memiliki fungsi di lantai dasar sebagai ruang publik yaitu front office, lantai dua sebagai ruang direktur dan meeting, sedangkan lantai teratas sebagai ruang pengembangan.
Sebagai kantor pusat, klien menginginkan bentukan bangunannya unik dari bangunan lainnya dan mempunyai konsep baru, terutama di kawasan Bangka. Konsep double-skin yang menggabungkan unsur besi, material fabrikasi dan kaca, diambil untuk mendapatkan kesan modern. Bentukan geometris serta unsur garis yang sederhana menjadikan bangunan ini terlihat simple namun elegan. Hal tersebut tidak serta merta sebagai estetika dan pemberi kesan modern saja, tetapi juga memiliki fungsi shading sebagaimana konsep double skin itu sendiri.

Pada lantai dasar, shading didapatkan dari perpanjangan kanopi yang didesain dengan garis-garis celah sebagai masuknya cahaya baik siang hari dan malam hari, selain sebagai gate entrance. Konsep shading tersebut juga akan memberikan kenyamanan bagi customer yang akan masuk ke dalam bangunan dari panas matahari dan hujan. Sedangkan double skin pada area fasad bangunan berfungsi untuk mereduksi sinar matahari yang akan masuk secara langsung kedalam bangunan, sehingga beban AC semakin ringan.

Bentukan gate pada lantai satu merupakan stilisasi dari logo JNE.Pada lantai atas, double skin didapat dari permainan bentuk garis besi sebagai shading, pada ruang direktur. Garis-garis ini didapatkan dari meng-extrude bentukan geometris dari denah, material yang bekerja sebagai solar-filter ini tidak menghalangi sinar masuk secara langsung, sehingga ruangan di dalamnya masih mendapatkan cahaya alami dari kaca transparan di baliknya.

Dedikasi, profesionalitas dan pelayanan terpadu yang ditunjukkan oleh perusahaan jasa pengiriman ini menginspirasisebuah konsep interior dengan tampilan yang elegan, rapi, teratur dan "dingin", sebuah cerminan etos kerja yang optimal dalam memuaskan para customer. Keterbatasan material pilihan justru menjadi suatu koridor kreatif yang mampu memaksimalkan konsep tersebut.

Penguatan tema warna "Dark Grey" dan "Silver" dengan beberapa aksen yang timbul dari kombinasi Logo, berpadu dengan efek Rustic, semi-industrial menjadi nuansa di setiap warna ruang, menciptakan koridor serial vision yang berkesan dan dapat menstimulasi customer untuk tetap percayaakan spirit pelayanan yang diberikan.

Jl.Jend. Sudirman No. 116, Bangka Belitung   |   6 Photos

House in Citra Garden

garis demi garis, tak saling mengirisgaris demi garis, tak saling mengikis.garis bertemu garis, menjadi ritmisgaris bertemu garis, semakin puitis...

Rumah yang terletak di Citra Garden, Sidoarjo ini merupakan pengembangan dari rumah yang sudah ada sebelumnya. Klien membeli rumah ini dan kemudian ingin merenovasinya agar sesuai dengan kondisi pemilik yang baru. Rumah awal adalah rumah yang berkesan simple dengan dua lantai, yang ingin ditambah ruang-ruang baru seiring bertambahnya kebutuhan. Klien menginginkan agar di lantai atas ditambah dua kamar tidur, kamar tidur tamu, mushola, ruang santai dan gudang. Sedangkan di lantai bawah ditambah ruang makan dan carport yang lebih representatif. Kesan yang bisa bisa ditangkap dari desain awal rumah ini adalah kekuatan dari permainan garis-garis tegak-lurus yang begitu dominan, baik pada bagian depan rumah hingga interior di bagian dalamnya. Dari situlah kemudian diputuskan untuk melanjutkan permainan komposisi garis itu secara lebih jelas dan lebih tegas lagi dalam desain, agar menimbulkan kesan garis ritmik yang lebih menarik tetapi tidak membosankan.

Bentuk awal rumah ini sebelum direnovasi sebetulnya sudah cukup bagus dan kompak menonjolkan kekuatan bidang dan garis-garis. Namun jika diamati secara mendalam, terlihat ada unsur yang tak seimbang di situ, sehingga tampak timpang. Titik berat bangunan seakan lebih berat ke arah kiri, karena bagian kanan atas terlihat kosong. Ini menjadi kesempatan potensial untuk membuat fasade rumah ini agar tampak lebih seimbang dan proporsional. Strateginya adalah dengan meneruskan bentukan box yang hanya separuh pada fasade menjadi sebuah kotak utuh, yang memanjang sesuai lebar rumah. Kisi-kisi yang sudah ada sebelumnya diulang tepat di sampingnya, tetapi didesain dengan jarak antar garis yang lebih besar dan jarang. Penambahan kisi-kisi ini bukan hanya untuk alasan estetis saja, tetapi juga sebagai elemen yang fungsional. Kisi-kisi tersebut sekaligus menjadi pagar balkon depan. Melalui penambahan yang bisa match dengan komposisi lama seperti ini, maka desain baru ini bisa menekan budget renovasi dengan hasil yang tak mengecewakan.

Yang menjadi objek olah desain berikutnya adalah carport, yakni tidak sekedar menggunakan kanopi biasa, tetapi juga digarap berdasarkan kekuatan ritmik dari perulangan garis-garis. Jika memakai kanopi biasa, mungkin bisa merusak tampak dan fasadenya. Carport yang bisa muat untuk dua mobil ini dibuat dengan bentuk kotak beton yang simple berbentuk gawang dengan lubang-lubang bukaan di bagian atas agar suasana tak terlihat gelap. Untuk bisa lebih menarik, bagian atap carport tersebut dibagi menjadi dua bagian, ada bukaan yang sempit dan bukaan yang lebar. Dengan bentuk dan ritme bukaan yang demikian, carport ini bisa menyatu dengan keseluruhan massa bangunan rumah dan menjadi bagian yang tak terpisahkan. Agar kesan smooth dan beraturan tidak terlalu dominan, maka pagar pada bagian depan rumah dibuat dengan penyelesaian menggunakan batu bronjong, berupa kawat besi kotak-kotak yang diisi dengan pecahan batu kali (yang biasa dipakai untuk pondasi). Ini berdasar pada prinsip balancing, pagar batu bronjong ini memberi aksen ketidakberaturan, alamiah, berwarna gelap dan berkesan berat. Ini menjadi penyeimbang yang sepadan dari massa bangunan rumah yang simple, lurus, teratur dan berwarna terang.

Penambahan ruang dalam yang mencolok di lantai bawah adalah ruang makan, yang dibuat berkonsep semi outdoor dengan atap kaca datar. Ini menimbulkan sensasi baru yang memberi suasana berbeda bagi sang pemilik rumah dan keluarganya, yang bisa makan bersama sambil menikmati keindahan langit seperti di alam terbuka. Untuk memberi kesan yang lebih hangat dan informal, lantai ruang makan ini diberi aksen kayu yang berbeda dengan ruang lain yang memakai keramik. Sedangkan penambahan ruang di lantai atas dengan memanfaatkan dek beton yang sudah ada, yang diatur sedemikian rupa untuk mendapatkan luasan dan posisi ruang yang efektif serta optimal. Keseluruhan interior rumah ini pun didesain ulang secara total, disesuaikan dengan konsep besar yang menekankan pada kekuatan ritmik dari garis-garis. Elemen garis diulang pada beberapa bagian ruang. Untuk mengurangi kesan monoton, maka diberi aksen oranye yang mencolok sekaligus sebagai emphasis dan pemanis ruang, misalnya kursi di ruang tamu dan ruang makan, serta beberapa elemen desain di pantry dan minibar. Bagian ruang keluarga yang agak sempit disiasati dengan alas karpet tanpa meja-kursi, juga dengan pemberian cermin besar agar berkesan lebih luas. Cermin ini tak dibiarkan polos, tetapi diberi tempelan cutting sticker berwarna orange agar bisa menyatu dengan konsep ritmik garis-garis. Di antara ruang keluarga dan ruang tamu juga ditambah dengan pembatas yang terdiri dari garis-garis vertikal. Ini untuk memberi privasi yang lebih pada ruang keluarga dan juga memperkuat irama garis-garis di bagian interior rumah.

Bagian halaman belakang rumah pun meskipun kecil dan terbatas tidak luput dari sentuhan elemen garis-garis. Biasanya bagian ini dianggap sebagai bagian marjinal yang tak penting dan hanya sedikit diolah. Namun di sini justru dimanfaatkan secara serius seperti halnya halaman depan. Tangga servis yang memanjang di bagian dinding belakang dijadikan sebagai elemen estetis yang menarik perhatian sebagai view yang bisa dinikmati dari dalam rumah. Tangga ini dibuat dengan permainan elemen garis-garis puitis yang rancak berirama antara yang rapat dan yang renggang. Tanjakan dan injakan tangga membentuk garis tebal menerus patah-patah dari bawah ke atas. Ruang di bagian bawah tangga yang bergaris-garis tersebut juga dimanfaatkan sebagai tempat menyimpan sepeda milik si empunya rumah. Dinding belakang rumah sengaja dibuat unfinished, sehingga menjadi background besar yang eksotik dengan warna batu abu-abu, sekaligus memperkuat tampilan tangga servis agar semakin mencolok.

Cluster Green Wood, Citra Garden, Sidoarjo   |   15 Photos

Royal Bali Hotel

Saat ini, di kota Surabaya banyak bermunculan budget hotel dengan tampilan dan model yang sangat beragam. Rata-rata dengan nuansa modern dan masa kini, serta berlomba untuk menunjukkan kesan wah dan mewah. Namun, hotel yang didesain oleh Andy Rahman Architect ini justru ingin menampilkan karakter dan suasana yang berbeda (different) dibanding budget hotel pada umumnya, tanpa mengorbankan idealisme dan juga kenyamanan para pengunjungnya.

Royal Bali Hotel ini terletak di Jalan Kendangsari Surabaya, dengan luas lahan 20X50 m2. Fasade bagian depannya dirancang berwujud covering besar sebagai lingkupan untuk melindungi dari panas matahari, karena hotel ini menghadap ke arah barat.

Covering bagian depan ini berupa secondary skin yang terbuat dari material kayu bekas yang disusun secara acak, dengan rangka dari baja bekas. Di bagian depannya lagi terdapat kanopi parkir dari kawat ayam yang diberi tanaman rambat untuk menambah aksen hijau dan alami. Jadi, fasade di bagian depan ini didominasi oleh material bata ekspos, kayu bekas dan tanaman rambat, yang dikomposisikan sedemikian rupa sehingga bisa tampil dengan kompak dan memberi nilai tambah bagi hotel ini.

Secara umum, hotel ini menerapkan konsep low budget, low maintenance. Serta ingin membuktikan bahwa ini bangunan murah tapi bukan murahan, bahwa bangunan ini memakai material bekas, tetapi terlihat keren dan tidak memalukan.

Di samping itu, hotel ini juga menekankan pada kejujuran material, di mana material dimunculkan sesuai dengan nature dan karakternya, tidak dipaksakan atau dibuat-buat. Dinding di bagian depan dibuat miring untuk menangkap view dari pandangan orang yang lewat di depannya. Demikian juga dengan kanopi drop-off yang juga dibuat miring dengan maksud yang serupa.

Sebelum hotel ini didesain, sudah ada bangunan eksisting yang letaknya di bagian paling belakang dari site, merupakan kantor proyek milik klien yang juga seorang developer. Bangunan eksisting ini nantinya tidak dihilangkan, tetapi justru diintegrasikan agar bisa match dan menyatu dengan bangunan yang baru.

 

Secara vertikal, pembagian zonasi hotel ini yaitu: lantai 1 atau lantai dasar untuk area servis, publik dan karyawan, sedangkan lantai 2 ke atas sebagai zona kamar-kamar. Untuk lantai dasar, terdapat lobbycaf dan restoran, yang orientasinya lebih ke arah utara-selatan, sedangkan ke arah timur menghadap ke taman tengah. Taman tengah ini berfungsi sebagai penghubung antara bagian depan dan belakang hotel, sekaligus sebagai ruang terbuka hijau atau oase bagi ruang-ruang di sekitarnya, juga agar pencahayaan dan penghawaan alami dalam hotel ini menjadi lebih optimal. Meskipun tak terlalu luas, taman tengah ini memberi dampak besar bagi bangunan hotel ini.

Sedangkan lantai 2 ke atas berupa dua buah bedrooms tower yang posisinya berada di kiri dan kanan dengan view ke arah utara dan selatan, dipisahkan oleh koridor besar di bagian tengahnya. Dinding sisi kiri-kanan hotel tidak dibuat menempel tembok luar, tetapi memang sengaja diberi jarak yang cukup agar kamar-kamar yang ada bisa mendapat pencahayaan dan penghawaan alami yang lebih memadai.

Dengan adanya jarak tersebut, maka masih memungkinkan tiap-tiap kamar memiliki balkon dan view ke luar. Agar pandangan visual pengunjung tidak berhadapan secara frontal dengan lingkungannya, maka balkon diberi penghalang berupa dinding yang tidak sepenuhnya tertutup, jadi pengunjung masih bisa melepaskan pandangan ke arah yang berbeda. Hal ini juga dimaksudkan agar privasi pengunjung di dalam kamar bisa lebih terjaga.

 

Dari sini terlihat bahwa pertimbangan desain dari kamar-kamar hotel ini bukan hanya dari sisi komersial saja, yang hanya memperhatikan banyaknya jumlah kamar yang bisa dijual, tetapi juga mempertimbangkan kenyamanan, kesehatan, keamanan dan juga kebutuhan pengunjung hotel.

Secara horisontal, tata massanya berupa podium terbuka karena ada koridor besar di tengah, yang menembus ke belakang dan terhubung dengan taman tengah, hal ini dimaksudkan untuk memanen angin (wind harvesting) sehingga mendukung konsep bangunan bersuasana terbuka yang diusung dalam desain hotel ini.

Struktur utama hotel berupa konstruksi baja dengan pertimbangan kemudahan dan kecepatan dalam pelaksanaannya, dengan menggunakan modul 6-4-6 (6 meter - 4 meter - 6 meter), yang mana bagian tengah sebagai koridor dan sisi kiri-kanannya difungsikan sebagai kamar-kamar.

Interior pada bagian penerima (lobby) dibuat agar tampak elegan dan bersih. Meja resepsionis dibuat dari kayu solid. Di bagian dinding diberi mural bertema Surabaya untuk menyegarkan suasana agar pengunjung merasa betah dan nyaman, serta bisa merasakan kekuatan place Surabaya. Pintu di belakang resepsionis ini terbuat dari stainless steel yang disamarkan, agar tidak rancu dengan pintu lain menuju ke area tengah (restoran).

Sedangkan caf dibuat lebih berkonsep industrial, sebagai gabungan yang unik antara warung kopi dan minibar. Di caf ini terjadi pengulangan warna putih, lantai dengan aksen kayu agar lebih memberi suasana hangat bagi mereka yang datang. Sebagian materialnya dari hasil reuse dan recycle, misalnya pada meja atau kursi, meja bar, rak minuman dan lain-lain. Juga terdapat mural-mural dengan tema Surabaya seperti yang terdapat di lobby.

 

Lalu, restoran yang berada di belakang caf memiliki view ke arah kolam, dengan aksen peti kemas yang kuat pada perabot meja dan kursi, juga pada plafon berupa permainan bentuk kotak-kotak dengan ukuran panjang yang berbeda-beda. Restoran ini merupakan area santai dengan lantai yang di-split(berbeda ketinggian).

Interior kamar-kamar juga tidak lepas dari konsep reuse dan recycle. Bagian dinding background di atas tempat tidur diberi aksen bidang peti kemas bekas, sekaligus sebagai emphasis (viewpoint) dari ruangan kamar tersebut. Materialnya didominasi oleh warna semen, yang dibiarkan tampil dengan nuansa abu-abu. Ruangan terlihat kasar tetapi menjadi lebih soft dengan adanya background peti kemas di belakangnya. Jika diamati sekilas, tampak rustic namun tetap artistik.

 

Hotel ini memang memakai material yang murah dan terkesan tidak eksklusif, tetapi mampu memberikan values yang lebih kepada pengunjung, sekaligus juga memberi nilai lebih pada hotel ini. Justru di sinilah yang menjadi titik beda dan keunikannya. Dengan demikian, secara tidak langsung hotel ini juga mengedukasi tamu-tamu yang datang dengan isu-isu kontemporer yang saat ini sedang berkembang, yang tercermin dalam sosok bangunannya, seperti isu iklim tropis, hemat biaya, hemat energi dan sekaligus pemanfaatan material bekas dengan cara reuse dan recycle.

Kendangsari, Surabaya   |   6 Photos

Masjid Assamawaat

Masjid yang terletak di desa Kohod, Tanjung Burung - Tangerang ini merupakan masjid yang dimiliki oleh Majelis Zikir Assamawaat. Majelis ini sudah memiliki lahan yang lokasinya berada di tengah-tengah tambak, rencananya masjid ini dibangun di atas hamparan air yang luas itu.

            Pihak Majelis pada awalnya sudah punya konsep segidelapan, dan ingin agar konsep itu diterapkan dalam desain. Namun, konsep ini diterjemahkan tidak secara literal,  dibuat secara lebih konseptual dan kontekstual. Karena jika dipahami secara literal, bentuk segidelapan tentunya kurang optimal dalam pemanfaatan ruang, akan ada ruang-ruang sisa yang “terbuang”.

Tanpa Kubah

Masjid Assamawaat direncanakan dibuat tanpa kubah. Seperti kita ketahui, kubah menjadi ciri masjid di dunia yang paling dikenal dan paling populer. Meskipun demikian, kubah bukanlah sesuatu yang wajib ada.  Justru orientasinya ke arah qiblat yang menjadi syarat wajib sebuah Masjid. Ada beberapa contoh masjid yang tidak memakai kubah, seperti masjid Assyafah di Singapura dan Masjid Faisal di Pakistan, di Indonesia ada Masjid Salman ITB dan Masjid Al-Irsyad di Bandung.

Menurut seorang pemikir Islam bernama Ismail Serageldin (1990), ada 5 pendekatan dalam perancangan arsitektur Masjid, yaitu: PendekatanPopular/Vernacular, Pendekatan Traditional, Pendekatan Populist, Pendekatan Adaptive Modern, dan pendekatan Modernist.

Dalam pendekatan popular/vernacular, masjid yang memang dibuat oleh para pembangun lokal (traditional builder), contohnya Masjid Yaama di Niger dan Masjid Niono di Mali. Pendekatan traditionalist, dibuat oleh arsitek dengan menggunakan kaidah arsitektur tradisional, termasuk teknik dan proporsinya, seperti masjid di New Gourna, Mesir oleh Hassan Fathy. Pendekatan populist, ketika kita menemui masjid yang kelihatannya ada semantic disorder (ketidakteraturan makna), tetapi tak masalah bagi penggunanya, contohnya Masjid Bhong di Pakistan. Pendekatan adaptive modern, masjid modern sebagai gema dari bentukan tradisional, contohnya Masjid Said Naum, Jakarta. Pendekatan modernist yaitu memisahkan diri dari yang tradisional, misalnya Sherefudin’s White Mosque di Visoko, Bosnia-Herzegovina.

 

            Masjid Assamawaat ini memakai pendekatan Modernist, dalam arti ingin membuat pemisahan dari yang tradisional (tajug atau kubah). Bentuknya berupa kotak yang ambigu. Pertama, kotak sebagai bentukan platonic solidyang simple dan fungsional. Kedua, kotak sebagai analogi Ka’bah yang memang juga berbentuk kotak/kubus.

Perlambang Ka’bah

Bentuk masjid menggunakan analogi Ka’bah, karena Majelis Zikir Assamawaatini juga menggunakan lambang Ka’bah, maka elemen inilah yang dieksplor lebih jauh. Agar kesan Islami menjadi lebih kuat, maka bagian sisi luar façadebangunan masjid dihias dengan ornamen arabes (arabesque) yang berciri Islam. Jadi, tradisi islam sebetulnya bukan hanya pada penggunaan kubah, tetapi di sini lebih ditekankan pada ornamennya yang menghiasi bidang-bidang façade masjid.

 

            Bagian Mihrab masjid didesain terbuka dan pada orientasi qiblat diberi bentukan Ka’bah yang diperkecil, tetapi dengan proporsi seperti aslinya. Ka’bah kecil sebagai orientasi qiblat ini diletakkan di atas kolam di sisi barat masjid. Ka’bah kecil ini posisinya dibuat agak miring sehingga jama’ah bisa melihat miniatur Ka’bah secara perspektif dan lebih terasa efek tiga dimensinya, sehingga semakin membuat para jamaah menjadi lebih khusyu’ dalam beribadah. Ini juga merupakan TOR spesifik dari majelis bahwa di mihrab harus ada gambar Ka’bah, dan di sini justru diwujudkan secara tiga dimensional.

Jalan Thawaf: Keseimbangan Ritual-Sosial

Masjid merupakan pusat kegiatan spiritual dengan ritual ibadah yang dilakukan di dalamnya. Namun, masjid juga punya fungsi sosial, yakni menjadi tempat orang-orang sekitar untuk berinteraksi. Untuk memperkuat sisi sosial ini, maka di sekeliling masjid diberi jalan memutar yang melingkari masjid. Jalan ini berupa cor-coran beton denga lebar sekitar 4 meter.

Sebenarnya, ide ini juga berasal dari Ka’bah di Masjidil Haram, yang dikelilingi umat Islam yang ber-thawaf ketika melakukan Haji/Umrah.  Ada unsur ambigu juga, antara terinspirasi thawaf dan juga sebagai jalan setapak keliling. Kedua fungsi itu bisa berjalan beriringan. Bahwa berada di sekeliling masjid mau tidak mau pasti berada dalam jangkauan aura Masjid itu sendiri. Jadi, ketika berfungsi sebagai elemen sosial, tempat rekreasi, melihat-lihat pemandangan, memancing, bermain dan lain-lain, tetap berada dalam jangkauan ibadah di Masjid.

 

Minaret (menara) masjid Assamawaat menjadi unsur vertikal sebagai penanda keberadaan masjid. Di menara ini terdapat lubag-lubang jendela dengan interval yang disesuaikan dengan jumah rekaat sholat, yakni 2 meter, 4 meter, 4 meter, 3 meter dan 4 meter. Posisi menara diatur sedemikian rupa sehingga terlihat lebih menyatu dengan masjid.

Fleksibilitas Ruang Mikro-Makro

Hubungan ruang mikro (di dalam dan sekitar masjid) dan ruang makro (di luar masjid) menjadi lebih erat dengan bukaan lebar ke arah timur. Ketika Majelis Zikir Assamawaat mengadakan acara yang besar, maka area masjid ini bisa menjadi luas, bahkan bisa sampai ke area taman yang ada di depannya.

Lantai ruang utama memakai lantai kayu jati, yang memang sudah dimiliki oleh pihak majelis. Sedangkan decking serambi menggunakan kayu ulin. Ruang dalam masjid ini tidak menggunakan air conditioner (AC), karena lokasinya yang terbuka dan ada banyak air di sekelilingnya sebagai natural cooling. Tempat wudlu wanita diposisikan di sebelah kiri, sedangkan tempat wudlu laki-laki di sebelah kanan, ini dimaksud agar tempat wudlu tidak mengganggu terwujudnya ruang mikro-makro dari masjid ini.

 

Bibliografi

Serageldin, Ismail (1990) Contemporary Expression of Islam in Buildings: The Religious and The Secular dalam Proceeding of International Seminar sponsored by The Aga Khan Award for Architecture and The Indonesian Institut of Architects, Jakarta and Yogyakarta, 15 – 19 October 1990

Desa Kohod Tanjung Burung, Tangerang Selatan   |   5 Photos

Rumah Puri Surya Jaya

Bermula dari sebuah rumah lama setinggi dua lantai, yang di lantai atasnya terdapat 1 kamar tidur, 1 kamar pembantu dan ruang service. Karena banyak masalah, antara lain kebocoran yang berkepanjangan tanpa pernah terselesaikan dengan tuntas, maka si pemilik merasa perlu untuk merenovasi rumahnya secara signifikan. Klien meminta di lantai atas terdapat tiga kamar untuk anak-anak mereka, dan lantai bawah ditata ulang untuk lebih mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan baru. Selain itu, klien juga meminta agar rumahnya diberi banyak kaca, tetapi privasi kegiatan keluarga di dalamnya tetap bisa terjaga. Untuk tampilan rumah, klien tak mau terlihat terlalu mewah, namun cukup mampu menjadi representasi bagi pemiliknya. Dari permintaan klien itulah, maka rumah ini kemudian didesain dengan mengolah dan mengeksplorasi potensi penggunaan material demi material, yang ditata secara berulang dan terintegrasi, mulai dari bentuk, eksterior, interior hingga ke perabot yang ada di dalamnya. Dengan rancangan yang mengolah materialitas tersebut, rumah ini menjadi sangat menyatu antara elemen-elemennya dan bisa membuat irama antar bidang yang berbeda-beda menjadi satu sinergi yang sama. Perabot bukan hanya sebagai pengisi ruang belaka, tetapi sekaligus sebagai elemen yang sangat mempengaruhi ruang, bisa menjadi satu kesatuan dengan ruang-ruang yang ada, bahkan keseluruhan rumah sebagai hasil jelajah materialitas (exploring materiality).

Bagian eksterior depan rumah merupakan perpaduan antara unsur-unsur baru dan lama. Unsur lama seperti sebidang dinding batu alam yang tetap dipertahankan, membuat rumah ini masih tetap punya keterkaitan secara visual dengan rumah-rumah lain di sekitar lingkungannya. Unsur-unsur baru dibuat dengan bahan-bahan yang biasa, seperti semen roll dan semen aci, karena pemilik rumah menginginkan tampilan yang sederhana dan tak terlalu mencolok. Maka dibuat irama dari elemen-elemen yang sederhana tersebut, tetapi dengan sentuhan desain yang berbeda. Pagar depan menggunakan bata ringan ecoblock yang ditata secara acak dan tetap dengan warna aslinya. Dinding depan rumah dengan permukaan berlapis semen aci yang dibagi dalam segmen-segmen membentuk bidang-bidang persegi yang juga acak. Segmen-segmen persegi ini juga menjadi elemen yang diulang hingga ke bagian dalam rumah. Terdapat dua carport di sisi kanan dan kiri rumah. Carport yang baru dibuat berlantai paving segi enam dengan warna random antara abu-abu dan merah, sebagian dibiarkan berupa tanah yang ditanami rumput. Atapnya ditutup dengan tananam rambat (markisa) yang nantinya akan memenuhi bagian atas. Rambatan di bagian atas ini dibuat dari kawat ayam, yang bisa menyatu secara apik dengan pagar depan yang berbahan expanded metal sheet. Juga pot tanaman, tempat sampah dan nomor rumah pun juga didesain dengan pertimbangan material agar menyatu dengan tampilan rumah.

Memasuki rumah ini, kita akan disambut dengan ruang tamu yang kecil tetapi cukup fungsional. Ruang tamu yang dirancang dengan konsep syari dan Islami, di mana tamu tidak bisa melihat ke dalam rumah karena dihalangi oleh dinding dengan frame HPL dan kaca sunblast sehingga pandangan mata tak bisa menembus ke dalam. Ruang utama dalam rumah merupakan sebuah ruang besar dengan denah terbuka (open plan), yang terdiri dari: ruang keluarga, ruang makan, mushola dan dapur. Keempat ruang ini menjadi satu kesatuan ruang yang utuh, tetapi masing-masing tetap memiliki ciri tersendiri. Ruang makan sebagai point of view dari ruang dalam ini karena berkesan lebih istimewa dan tak biasa. Meja makan dibuat custom, terbuat dari kayu peti kemas yang di atasnya dilapis kaca bening. Meja ini  diberi tulisan-tulisan dalam berbagai bahasa dunia yang artinya: Selamat Makan. Lantai ruang makan juga dengan keramik vintage yang disusun acak, yang memperkuat ruang makan sebagai pusat dari rumah ini. Antara mushola dan ruang makan dibatasi dengan jeruji besi as yang membentuk irama jarak yang sama. Mushola ini juga merupakan ruang yang tak kalah penting di rumah ini, dengan lantai warna kayu yang natural, sedangkan jalan ke arah tempat wudlu berupa tatanan batu-batu kecil berwarna putih yang kontras dengan warna kayu. Di dinding mushola arah kiblat terdapat kaligrafi berlafal Syahadat yang menambah nuansa religius di rumah ini. Keempat ruang di area tengah ini disatukan dengan material HPL dan juga perabot dari bahan kayu peti kemas, yang memberi kesan sederhana namun punya tekstur dan kesan yang khas. Di bagian dapur, perabot dan dinding  diberi aksentuasi garis-garis dari material HPL warna putih yang dibuat dengan mengulang garis-garis pada ruang tamu.

Selain itu, di bagian ruang utama ini terdapat tangga beton yang menjadi elemen yang paling menarik dan terletak di tengah-tengah, yang sekaligus mendukung keberadaan ruang makan yang cukup catchyRailing tangga dibuat menempel di sisi luar anak tangga sehingga secara visual berkesan melayang. Railing ini dari baja plat yang disusun dengan jarak yang acak sehingga membentuk irama yang rancak, yang dibuat dengan eksperimen langsung di lapangan. Dan akhirnya, di belakang ruang makan dan tangga terdapat bidang dinding yang sangat kontras dengan dinding yang lain, berupa dinding bata ekspos berwarna terakota yang dibuat menerus dari lantai bawah hingga ke atas, dengan tonjolan dan lubang-lubang random yang semakin menambah kekuatan materialitas di bagian ini. Sebuah bidang bertekstur kasar dan berwarna gelap di tengah-tengah material yang halus, bersih dan berwarna cerah, membentuk kontradiksi yang mengejutkan. Adanya tangga dan background terakota ini menjadi elemen yang sangat vital dan mempercantik  void yang menghubungkan antara ruang bawah dan ruang atas.

Di lantai atas, terdapat ruang treadmill dan ruang bersama, dan di bagian depannya terdapat tiga kamar tidur anak yang didesain secara custom, dengan mengikuti hobi, minat dan kesukaan anak sehingga tampil dengan kesan dan tema yang berbeda-beda. Ada yang dominan biru tua, biru muda dan oranye. Ada yang suka sepeda, ada yang suka alam dan kupu-kupu. Tetapi semuanya disatukan dengan aksen warna abu-abu yang mampu menjaga unity antara ketiga kamar tersebut, dan sekaligus menyatu dengan keseluruhan rumah yang dominan menggunakan warna abu-abu semen. Lantai atas ini dilengkapi dengan zona service untuk mendukung kegiatan penghuni. Zona service ini cukup penting sebagai tulang punggung kegiatan sehari-hari di rumah, dan terdiri dari ruang pembantu, pantry, gudang, ruang cuci dan jemur, serta tandon air atas. Sedangkan balkon yang menjorok ke depan pada awalnya merupakan bagian dek atas carport lama yang kemudian diperlebar agar bisa menjadi tempat kegiatan outdoor bagi keluarga. Maka balkon ini lebih rendah dari lantai atas, sehingga diberi tangga untuk turun. Berbeda dengan dinding luar lantai bawah yang cenderung masif dari bahan semen, dinding lantai atas ini lebih berkesan meruang dengan material kaca-kaca sunblast dengan derajat tembus cahaya yang diatur secara random, sehingga terlihat lebih natural dan jauh dari kesan kaku. Ini merupakan bagian dari skenario exploring materiality yang menjadi jiwa desain dari rumah ini.

Perumahan Puri Surya Jaya, Sidoarjo   |   27 Photos

T(h)ree House

Omah Jawa masa kini. Rumah ini berlokasi di daerah Jember, Jawa Timur, dengan besaran siteyang tersedia seluas  11X27 m2. Diberi nama T(h)ree House karena rumah ini terdiri dari 3 massa bangunan yang berada di antara taman-taman yang berpohon. 

Berdasarkan pengalaman Kami mendesain rumah selama 10 tahun terakhir, menunjukkan bahwa rumah yang paling nyaman bagi penghuni adalah rumah 1 lantai, karena orang cukup beraktivitas di lantai yang sama, tidak perlu bersusah-payah naik-turun tangga. Selain itu, rumah 1 lantai juga membuat seluruh anggota keluarga bisa berkumpul bersama dan lebih dekat secara emosional, tidak seperti rumah bertingkat yang menciptakan “jarak”. Maintenance dan biaya pembangunan rumah 1 lantai juga lebih mudah dan murah jika dibanding rumah bertingkat. Kebetulan, pemilik rumah ini juga memiliki pemahaman yang sama mengenai hal ini.

Meskipun lahannya cukup, tetapi justru tidak dirancang sebagai sebuah rumah yang besar. Rumah ini terdiri dari tiga bagian yang terpisah, dipisahkan oleh ruang-ruang luar di antara massa-massa bangunannya. Dengan demikian, penghuni rumah ini akan mendapatkan pengalaman ruang yang berbeda jika dibandingkan rumah satu massa. Penghuni menempati rumah yang sebenarnya “kecil”, tetapi dengan suasana seperti rumah dengan site yang besar.

 

Meng-kini-kan Omah Jawa

Dalam rumah atau omah Jawa, ada tiga struktur utama pembentuk omah, yaitu: PendapaPringgitan dan Dalem (Prijotomo, 1984). Pola Pendapa-Pringgitan-Dalem dipakai di rumah ini dengan perubahan konteks. Jika di rumah Jawa dengan site yang luas, maka rumah bisa dibuat satu massa dan berukuran besar. Sedangkan di rumah ini, agar penghuni bisa menikmati ruang luar, maka massa dipecah menjadi tiga bagian. Jadi, rumah ini juga tersusun atas bagian Pendapa, Pringgitan dan Dalem, dengan massa yang berdiri sendiri-sendiri.

Jika dirunut ke dalam zoning masa kini, maka area pendapa adalah zona publik yang diwujudkan sebagai ruang tamu, area pringgitan merupakan zona peralihan (antara publik dan privat) yang dipakai untuk ruang keluarga dan ruang makan (plus kamar anak), dan area dalem adalah zona privat yang difungsikan sebagai kamar tidur utama.

            Selain alasan memberi pengalaman ruang yang berbeda, pemisahaan massa ini juga berdasar permintaan klien, yang menginginkan rumah di mana sirkulasi udara dan cahaya matahari alami bisa mengalir ke ruang-ruang dengan baik. Sebagai rumah yang terletak di daerah dengan iklim tropis, pemisahan massa ini menjadi solusi yang jitu agar sirkulasi udara dan cahaya matahari bisa dioptimalkan pemanfaatannya.

 

Ruang Luar di antara Massa Bangunan

Masih ada lagi permintaan unik dari klien yaitu meminta ruang tamu kalau bisa dipisah dari rumah induk. Hal ini pula yang pada awalnya turut mengilhami pemisahan rumah ini menjadi 3 massa. Selain itu, klien juga meminta adanya ruang santai yang dekat dengan ruang tamu, maka ruang santai terbuka tersebut diletakkan di antara ruang tamu dan ruang keluarga.

            Dengan adanya taman/ruang luar di antara massa bangunan, plus jendela-jendela yang menghadap taman, maka ruang-ruang dalam menjadi terasa lebih lega. Apalagi dengan adanya bukaan dan teras yang menerus pada ruang keluarga dan ruang makan, yang menyatukan antara ruang dalam dan ruang luar, sehingga ruang tersebut terasa lebih lapang/luas, karena pandangan bisa lepas ke arah taman.

Untuk lebih mendekatkan penghuni dengan ruang luar, maka tempat wudlu pun diletakkan di bawah pohon, agar penghuni tidak lagi “membedakan” antara di luar dan di dalam, sekaligus mendekatkan diri pada alam. Jadi, rumah ini pun sebagai tempat pembelajaran, bagaimana manusia berinteraksi secara lebih intens dengan ruang luar.

 

Material Unfinished

Material yang digunakan di rumah ini didominasi oleh material yang unfinished, seperti bata ekspos, beton ekspos, juga kayu. Juga memakai plat metal dan metal perforated agar matching dengan beton dan bata ekspos. Selain itu, masih ditambah dengan tanaman rambat fleksi mini di beberapa bagian dinding, agar suasana di area rumah ini menjadi lebih sejuk dan segar.

Untuk material bata ekspos, juga mengambil referensi dari candi Jawa Timur (terutama era Majapahit) yang banyak memakai batu bata ekspos sebagai material utama. Unsur ini ditampilkan secara dominan pada dinding-dinding rumah. Dengan adanya bata ekspos berwarna terakota ini, plus permainan kayu, bisa memberi kesan hangat untuk mengimbangi tampilan beton ekspos yang dingin, sehingga membentuk sebuah keseimbangan.

 

Bentuk Dasar Sederhana

Secara umum, bentuk rumah ini pun memakai bentuk-bentuk dasar, berupa atap pelana sederhana. Karena sebetulnya sebuah rumah adalah tempat untuk berdiam, menikmati hidup dan menenangkan diri, sehingga yang lebih dibangun adalah suasananya yang familiar, terbuka, sejuk, tenang, lebih dekat dengan alam dan lingkungan, maka rasanya tidak perlu memakai bentukan-bentukan yang berlebihan.

            Kekuatan rumah ini justru pada kesederhanaannya itu, yang natural dan menyatu dengan alam, serta menampilkan material-material ekspos yang lugas, dengan pertimbangan maintenance yang tidak ribet. Memang, sederhana itu sulit, tetapi bukan tak mungkin untuk diwujudkan.

Bibliografi

Prijotomo, Josef (1984) Ideas and Forms of Javanese Architecture, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta

Jl. Imam Bonjol, Tegal Besar, Jember, Jawa Timur   |   7 Photos

Rumah Kost Keputih Jilid 2

Rumah kost yang berlokasi di Keputih, Surabaya Timur ini dirancang berdasarkan prinsip Less but More, yang bisa dijabarkan sebagai Less Budget but More Benefits: sebuah tempat kost yang dirancang dengan biaya rendah, tetapi tetap tampil dengan baik dan memberi banyak manfaat, baik bagi pemilik maupun penggunanya.

Di daerah Keputih - yang berdekatan dengan beberapa kampus di Surabaya Timur - banyak sekali muncul rumah-rumah kost baru seiring banyaknya permintaan. Jadi, untuk membuat tempat kost baru yang laku dan diminati oleh para penyewa, harus dibuat sesuatu yang berbeda dan lebih unggul dibanding dengan tempat kost yang lain. Pendek kata, desain harus tetap dijaga kualitasnya meskipun dengan budget yang rendah dan terbatas. Desain rumah kost ini sekaligus ingin membuktikan bahwa karya dengan kinerja dan mutu yang baik tidak harus mahal, kuantitas tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas.

Surabaya, Indonesia   |   24 Photos

Rumah Miring

If we see how far the architecture development nowadays, most of them have ‘forgotten’ the basic principles of architecture, people are increasingly distant from the spiritual dimension, disharmony with the nature, and far from urban awareness. Because of that, Andy Rahman decided to design this house with Back to Basics principles. Basics in this context cover the basics of spirituality, materials, and urbanity.

Jl. Medokan Asri Tim. IX, Rungkut, Surabaya, Jawa Timur, Indonesia   |   25 Photos